its_mee haid@R

its_mee haid@R

Selasa, 20 Desember 2011

Artikel Pahlawan Wanita Terhebat R.A Kartini


Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April tahun 1879 di kota Jepara, Jawa Tengah. Ia anak salah seorang bangsawan yang masih sangat taat pada adat istiadat. Setelah lulus dari Sekolah Dasar ia tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orangtuanya. Ia dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan. Kartini kecil sangat sedih dengan hal tersebut, ia ingin menentang tapi tak berani karena takut dianggap anak durhaka. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya yang kemudian dibacanya di taman rumah dengan ditemani Simbok (pembantunya).
Akhirnya membaca menjadi kegemarannya, tiada hari tanpa membaca. Semua buku, termasuk surat kabar dibacanya. Kalau ada kesulitan dalam memahami buku-buku dan surat kabar yang dibacanya, ia selalu menanyakan kepada Bapaknya. Melalui buku inilah, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa (Belanda, yang waktu itu masih menjajah Indonesia). Timbul keinginannya untuk memajukan wanita Indonesia. Wanita tidak hanya didapur tetapi juga harus mempunyai ilmu. Ia memulai dengan mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Ditengah kesibukannya ia tidak berhenti membaca dan juga menulis surat dengan teman-temannya yang berada di negeri Belanda. Tak berapa lama ia menulis surat pada Mr.J.H Abendanon. Ia memohon diberikan beasiswa untuk belajar di negeri Belanda.
Beasiswa yang didapatkannya tidak sempat dimanfaatkan Kartini karena ia dinikahkan oleh orangtuanya dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Setelah menikah ia ikut suaminya ke daerah Rembang. Suaminya mengerti dan ikut mendukung Kartini untuk mendirikan sekolah wanita. Berkat kegigihannya Kartini berhasil mendirikan Sekolah Wanita di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”. Ketenarannya tidak membuat Kartini menjadi sombong, ia tetap santun, menghormati keluarga dan siapa saja, tidak membedakan antara yang miskin dan kaya.

Pada tanggal 17 september 1904, Kartini meninggal dunia dalam usianya yang ke-25, setelah ia melahirkan putra pertamanya. Setelah Kartini wafat, Mr.J.H Abendanon memngumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada para teman-temannya di Eropa. Buku itu diberi judul “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT” yang artinya “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Saat ini mudah-mudahan di Indonesia akan terlahir kembali Kartini-kartini lain yang mau berjuang demi kepentingan orang banyak. 
Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya.
Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan beda dengan saudara maupun teman-temannya yang pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan kurang baik itu.
Belakangan ini, penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar agak diperdebatkan. Dengan berbagai argumentasi, masing-masing pihak memberikan pendapat masing-masing. Masyarakat yang tidak begitu menyetujui, ada yang hanya tidak merayakan Hari Kartini namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember.
Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya. Namun yang lebih ekstrim mengatakan, masih ada pahlawan wanita lain yang lebih hebat daripada RA Kartini. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Dan berbagai alasan lainnya.
Sedangkan mereka yang pro malah mengatakan Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja melainkan adalah tokoh nasional artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah dalam skop nasional.
Sekalipun Sumpah Pemuda belum dicetuskan waktu itu, tapi pikiran-pikirannya tidak terbatas pada daerah kelahiranya atau tanah Jawa saja. Kartini sudah mencapai kedewasaan berpikir nasional sehingga nasionalismenya sudah seperti yang dicetuskan oleh Sumpah Pemuda 1928.
Terlepas dari pro kontra tersebut, dalam sejarah bangsa ini kita banyak mengenal nama-nama pahlawan wanita kita seperti Cut Nya’ Dhien, Cut Mutiah, Nyi. Ageng Serang, Dewi Sartika, Nyi Ahmad Dahlan, Ny. Walandouw Maramis, Christina Martha Tiahohu, dan lainnya.
Mereka berjuang di daerah, pada waktu, dan dengan cara yang berbeda. Ada yang berjuang di Aceh, Jawa, Maluku, Menado dan lainnya. Ada yang berjuang pada zaman penjajahan Belanda, pada zaman penjajahan Jepang, atau setelah kemerdekaan. Ada yang berjuang dengan mengangkat senjata, ada yang melalui pendidikan, ada yang melalui organisasi maupun cara lainnya. Mereka semua adalah pejuang-pejuang bangsa, pahlawan-pahlawan bangsa yang patut kita hormati dan teladani.
Raden Ajeng Kartini sendiri adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri di hati kita dengan segala cita-cita, tekad, dan perbuatannya. Ide-ide besarnya telah mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, dia mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi.
Bagi wanita sendiri, dengan upaya awalnya itu kini kaum wanita di negeri ini telah menikmati apa yang disebut persamaan hak tersebut. Perjuangan memang belum berakhir, di era globalisasi ini masih banyak dirasakan penindasan dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan.



Senin, 14 November 2011

"Petuah Hati"

Sandarkan Lelah Hari
Hilangkan Duka Kala
Kau Terluka
Pedih Hati
Tak Selamanya Indah
Kini Mungkin Akhirnya
Saat Duka
Saat Lara
Yang Sudah Berlalu Biarkanlah Sudah
Tak Perlu Sesali Jangan Kau Tangisi
Jika Asa dan Bahagia Tak Kau Rasa
Dengarkanlah dan Rasakanlah
Kicau Burung Berdendang
Nyanyian Alam
Riuh Bersahutan
Betapa Merdunya
Coba Lihat dan Renungkan
Langit Garis Tangannya
Hamparan Samudra
Betapa Indahnya
Percayalah
Kau Dalam Lindungan Cinta
Maha Segala Maha


"Makna Cinta"

Hemmm.. dapat lagu bagus nih dari teman..
liriknya T-O-P B-GT =TOP BGT..
Saat kecil ku pernah bertanya
Tentang arti cinta pada bunda
Bunda pun menjawab
Cinta adalah kasih sayang induk dan anaknya

Saat ku mulai beranjak dewasa
Pada sahabat ku pun bertanya
Dia pun menjawab
Cinta adalah kasih sayang dua insan manusia

Adakah yang mampu menjawab
Makna cinta yang slalu kutanyakan
Mereka yang terjerat rasa cinta
Matanya pendarkan cahaya suka dan duka

Ku trus mencoba tuk bertanya
Walau kini ku terjerat cinta
Mungkin tak terjawab dengan kata
Mungkin cinta hanya tuk dirasa

Suka duka akan mewarnai cinta
Yang menyatukan dua insan berbeda
Mungkin takkan kutemukan makna cinta
Sebelum kumenjalaninya

dikutip dari Lagu Makna cinta - Bram

Emang gitu ya??

G-A-L-A-U
GAL-A-U
GA-LA-U
GALAUUUUUUUUUUUUUUUUU..

Kata teman gw seh  anak muda sekarang suka nya GALAU..
Cz klo gak GALAU itu gak GAUL...hehhehehe..ada-ada aja anak muda sekarang..



Minggu, 13 November 2011

Semoga bermanfaat!!
LAPORAN OBSERVASI
KERATON KASUNANAN SURAKARTA HADININGRAT


Laporan  ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Antropologi
Yang Diampu Oleh Drs.Dono, M.Pd

DISUSUN OLEH :

1.        DIMAS FAJAR P          K4409019
2.        ISMY SARIDIYANTI  K4409029


PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2011


BAB I
PENDAHULUAN

A.               Latar Belakang
Liburan ke Kota Solo tak puas rasanya jika tidak berkunjung ke Keraton Kasunanan Solo. Kemegahan keraton ini tidak lepas dari budaya, nilai sejarah dan nilai magisnya.
Observasi ini sendiri dilaksanakan pada 14 November 2011.
Berbicara mengenai Kota Solo, tidak lepas akan keberadaan Keraton Surakarta Hadiningrat atau lebih dikenal dengan Keraton Solo.  Istana yang dibangun Paku Buwono II pada tahun 1745 tersebut mempunyai arsitektur tradisional Jawa yang terkenal dengan menara Panggung Sangga Buwana.
Keraton Surakarta atau lengkapnya dalam bahasa Jawa disebut Karaton Surakarta Hadiningrat adalah istana Kasunanan Surakarta. Keraton ini didirikan oleh Susuhunan Pakubuwono II (Sunan PB II) pada tahun 1744 sebagai pengganti Istana/Keraton Kartasura yang porak-poranda akibat Geger Pecinan 1743. Istana terakhir Kerajaan Mataram didirikan di desa Sala (Solo), sebuah pelabuhan kecil di tepi barat Bengawan (sungai) Beton/Sala. Setelah resmi istana Kerajaan Mataram selesai dibangun, nama desa itu diubah menjadi Surakarta Hadiningrat. Istana ini pula menjadi saksi bisu penyerahan kedaulatan Kerajaan Mataram oleh Sunan PB II kepadaVOC di tahun 1749. Setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755, keraton ini kemudian dijadikan istana resmi bagi Kasunanan Surakarta.
Saat ini, keraton masih menjadi daya tarik bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Selain karena nilai sejarahnya, nilai magis akan keberadaan keraton masih menjadi daya tarik yang tak terelakkan. Daya tarik lainnya adalah perhelatan budaya yang secara rutin digelar setiap tahun. Pihak keraton masih konsisten menjaga aset kebudayaannya yang sudah turun-temurun. Bahkan, benda-benda budaya pun masih tersimpan dengan baik di Museum Keraton. 

B.               Rumusan Masalah
1.                  Bagaimana sejarah berdirinya Keraton Kasunanan Surakarta?
2.                  Bagaimana kemegahan arsitektural Keraton Kasunanan Surakarta?
3.                  Apa saja warisan budaya dari Keraton Kasunan Surakarta?
4.                  Siapa pemangku adat Surakarta?
5.                  Apa saja filologi dan mitologi seputar Keraton Kasunanan Surakarta?
C.               Tujuan Penulisan
1.                  Mengetahui sejarah berdirinya Keraton Kasunanan Surakarta.
2.                  Mengetahui kemegahan arsitektural Keraton Kasunanan Surakarta.
3.                  Mengetehui apa saja warisan budaya dari Keraton Kasunan Surakarta.
4.                  Mengetahui siapa saja pemangku adat Surakarta.
5.                  Mengetahui filologi dan mitologi seputar Keraton Kasunanan Surakarta.





BAB II
PEMBAHASAN

A.     Sejarah Berdirinya Keraton Kasunanan
Kota Solo atau Kota Surakarta adalah kota kuno yang dibangun oleh Paku Buwana II. Riwayat kota ini tidak bisa lepas dari sejarah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang merupakan penerus trah Kerajaan Mataram Islam yang dibangun oleh Panembahan Senopati. Keraton Mataram Islam memang beberapa kali berpindah tempat, pertama dari Keraton Kotagede (Kota Yogyakarta) berpindah ke Keraton Plered (Kab. Bantul) pada masa Amangkurat I, kemudian pada masa Amangkurat II berpindah ke Keraton Kartasura (Kab. Sukoharjo) karena Keraton Plered rusak akibat pemberontakan Trunojoyo. Keraton Kartasura digunakan oleh Amangkurat II hingga masa Paku Buwana II (antara tahun 1680—1742 Masehi).
Pada masa pemerintahan Paku Buwana II, terjadi peristiwa “Geger Pecinan”, yaitu pemberontakan laskar-laskar Cina yang didukung oleh beberapa pangeran dan kerabat raja. Pemberontakan ini dimulai sejak 1740 ketika VOC memberlakukan kebijakan untuk mengurangi jumlah orang Cina di Batavia, sehingga banyak orang Cina yang mengungsi ke wilayah Jawa Tengah dan membentuk laskar-laskar perlawanan. Pelarian laskar-laskar Cina tersebut ternyata mendapat dukungan dari para bupati di wilayah pesisir. Secara diam-diam, Paku Buwana II juga mendukung gerakan perlawanan laskar Cina terhadap VOC ini melalui patih kerajaan, yaitu Adipati Natakusuma. Tujuannya untuk memukul mundur kekuasaan VOC di wilayah kekuasaan Mataram Kartasura.
Namun, melihat Kota Semarang yang menjadi pusat VOC di Timur Batavia tidak kunjung jatuh ke tangan orang-orang Cina, Paku Buwana II menarik dukungannya dan kembali memihak VOC untuk memerangi perlawanan laskar Cina. Untuk menutupi kecurigaan VOC, Susuhunan (artinya ‘yang disembah‘, sebutan untuk Raja) menangkap Adipati Natakusuma yang akhirnya dihukum buang ke Sailon (Srilanka). Akan tetapi, ternyata kekuatan pasukan Cina tidak berangsur surut, melainkan tambah kuat dengan dukungan Bupati Pati, Bupati Grobogan, dan beberapa kerabat raja. Bahkan laskar Cina ini mampu mengangkat Mas Garendi (cucu Amangkurat III) sebagai penguasa yang baru atas kerajaan Mataram Kartasura dengan gelar Sunan Kuning (yang bermakna raja yang didukung oleh orang Cina).
Pada tahun 1742, pihak kerajaan makin terdesak, sehingga Raja, kerabat, dan pengikutnya yang masih setia harus mengungsi ke Ponorogo, Jawa Timur. Para pemberontak berhasil menduduki dan merusak bangunan Keraton Kartasura. Pemberontakan baru dapat dipadamkan setelah Paku Buwana II dibantu pasukan VOC menyerbu laskar Cina. Meskipun kembali bertahta, namun Susuhunan merasa pusat kerajaan di Keraton Kartasura tidak layak lagi untuk ditempati. Sebab, menurut kepercayaan Jawa, keraton yang sudah rusak telah kehilangan “wahyu”. Oleh sebab itu, maka Susuhunan kemudian menugaskan Adipati Pringgalaya, Adipati Sindureja, Mayor Higendorp, serta beberapa ahli nujum seperti Tumenggung Hanggawangsa, Mangkuyuda, serta Puspanegara untuk mencari lokasi baru).
Setelah melalui berbagai pertimbangan, maka Desa Solo ditetapkan sebagai lokasi baru untuk menggantikan Keraton Kartasura. Pembangunan keraton dilakukan dari tahun 1743 hingga 1745. Konstruksi bangunan keraton menggunakan bahan kayu jati yang diperoleh dari Alas Kethu di dekat Kota Wonogiri. Yang menarik, salah satu arsitek pembangunan keraton ini adalah Pangeran Mangkubumi, kerabat Susuhunan yang kelak memberontak dan berhasil mendirikan Kesultanan Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengku Buwana I. Sehingga tidak mengherankan jika bangunan Keraton Yogyakartamemiliki banyak kemiripan dengan Keraton Surakarta. Setelah pembangunan selesai, keraton baru yang diberi nama Keraton Surakarta Hadiningrat tersebut resmi digunakan oleh raja pada tanggal 17 Februari 1745 (atau Rabu Pahing 14 Sura 1670 Penanggalan Jawa, Wuku Landep, Windu Sancaya).
Keraton Surakarta yang dapat dilihat sekarang bukan bentuk asli dari bangunan awal pada masa Paku Buwana II. Secara bertahap, bangunan keraton telah beberapa kali mengalami renovasi meskipun tetap mempertahankan pola dasar tata ruang aslinya. Renovasi secara besar-besaran dilakukan pada masa Paku Buwana X yang bertahta antara 1893—1939. Dalam renovasi terbesar ini, bangunan keraton mulai mengadopsi gaya bangunan Eropa dengan nuansa warna putih dan biru yang menjadi warna khas kerajaan.
Wisatawan yang ingin menikmati peninggalan sejarah Kerajaan Mataram Surakarta ini diwajibkan untuk mematuhi berbagai peraturan, seperti tidak memakai topi, kacamata hitam, celana pendek, sandal, serta jaket. Bagi wisatawan yang memakai celana pendek, dapat meminjam kain bawahan untuk digunakan selama mengelilingi kawasan keraton.

B.     Kemegahan Arsitektural
Keraton (Istana) Surakarta merupakan salah satu bangunan yang eksotis di zamannya. Salah satu arsitek istana ini adalah Pangeran Mangkubumi (kelak bergelar SultanHamengkubuwono I) yang juga menjadi arsitek utama Keraton Yogyakarta. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika pola dasar tata ruang kedua keraton tersebut (Yogyakarta dan Surakarta) banyak memiliki persamaan umum.
Pembangunan keraton dilakukan dari tahun 1743 hingga 1745. Konstruksi bangunan keraton menggunakan bahan kayu jati yang diperoleh dari Alas Kethu di dekat kota Wonogiri. Luas keraton ini sekitar 54 hektar, mulai dari Alun- Alun Utara hingga Alun-Alun Selatan dan dikitari oleh Pasar Klewer dan Masjid Agung Surakarta.
Keraton Surakarta sebagaimana yang dapat disaksikan sekarang ini tidaklah dibangun serentak pada, namun dibangun secara bertahap dengan mempertahankan pola dasar tata ruang yang tetap sama dengan awalnya.
Pembangunan dan restorasi secara besar-besaran terakhir dilakukan oleh SusuhunanPakubuwono X (Sunan PB X) yang bertahta 1893-1939. Sebagian besar keraton ini bernuansa warna putih dan biru dengan arsitekrur gaya campuran Jawa-Eropa.
Secara umum pembagian keraton meliputi: Kompleks Alun-alun Lor/Utara, Kompleks Sasana Sumewa, Kompleks Sitihinggil Lor/Utara, Kompleks Kamandungan Lor/Utara, Kompleks Sri Manganti, Kompleks  Kedhaton, Kompleks Kamagangan, Kompleks Srimanganti Kidul/Selatan dan Kemandungan Kidul/Selatan, serta Kompleks Sitihinggil Kidul dan Alun-alun Kidul.
Keraton Kasunanan Solo mempunyai luas sekitar 54 hektare. Dimulai pada Alun- Alun Utara hingga Alun-Alun Selatan. Bangunan keraton terdiri dari Pagelaran, Siti Hinggil,Kori Brojowolo, Kori Kamandungan, Kori Sri Manganti, dan Panggung Sangga Buwana. Sedangkan bagian keraton yang tidak boleh dikunjungi wisatawan adalah Sasana Sewaka, Sasana Pustaka, dan Maligi.
Mengunjungi Keraton Solo, dari arah depan akan menyaksikan susunan kota lama khas Jawa, yaitu sebuah bangunan keraton yang dikitari oleh Alun-alun, Pasar Klewer, dan Masjid Agung Surakarta. Memasuki bagian depan keraton, wisatawan dapat melihat bangunan yang disebut Sasana Sumewa dan sebuah meriam berbahan perunggu bernama Kiai Rancawara. Bangunan ini dahulu digunakan sebagai tempat Pasewakan Agung, yaitu pertemuan antara Raja dan para bawahannya. Di tempat ini wisatawan masih bisa menyaksikan Dhampar Kencana (singgasana raja) yang terletak di Siti Hinggil Lor (Siti Hinggil bermakna tanah yang ditinggikan sebagai tempat kedudukan raja). Pengunjung dilarang menaiki area ini, sebab tempat tersebut sangat dihormati dan dianggap keramat.
Dari Siti Hinggil, wisatawan akan memasuki Kori Renteng  dan Kori Mangu ( kori bermakna pintu, renteng bermakna pertentangan  dalam hati , sementara mangu berarti ragu-ragu). Pada bagian selanjutnya, wisatawan melewati Kori Brojonolo (brojo = senjata, nolo = pikiran). Jadi, mereka yang melewati pintu-pintu ini diminta untuk meneguhkan hati, membuang rasa ragu, dan memantapkan pikiran untuk selalu waspada Pada bagian selanjutnya, pengunjung akan sampai di pelataran Kamandungan Lor, kemudian Sri Manganti dan akhirnya mengunjungi museum keraton yang bernama Museum Keraton Surakarta Hadiningrat.
Di museum ini, wisatawan dapat menyaksikan benda-benda peninggalan Keraton Kasunanan Surakarta serta beberapa fragmen candi yang ditemukan di Jawa Tengah. Pada ruang pertama, pengunjung dapat melihat benda-benda yang pernah digunakan sebagai alat memasak abdi dalem (pembantu raja), seperti dandang, mangkuk, serta beberapa peralatan dari gerabah. Ada juga ruangan yang digunakan untuk memamerkan senjata-senjata kuno, seperti tombak, pedang, meriam, hingga pistol jaman dulu yang digunakan oleh keluarga keraton. Berbagai peralatan kesenian yang biasa ditampilkan di Keraton Surakarta, seperti gamelan dan topeng, juga dipamerkan di museum ini. Koleksi menarik lainnya yang dapat dinikmati adalah kereta kencana, dayung sampan sepanjang 5 meter, serta topi kebesaran Paku Buwana VI, Paku Buwana VII, serta Paku Buwana X. Apabila ingin mengetahui sejarah pembagian Kerajaan Surakarta dan Yogyakarta berdasarkan Perjanjian Giyanti 1755, wisatawan dapat melihat silsilah para penguasa dan penerus Mataram Islam yang berpuncak pada Panembahan Senopati, raja pertama Mataram Islam.
Setelah puas menimba pengetahuan sejarah di Museum Keraton Surakarta, wisatawan bisa beranjak menuju Sasana Sewaka yang berada di samping museum. Pada halaman Sasana Sewaka yang dihiasi oleh pohon sawo kecik, wisatawan diharuskan melepas alas kaki untuk berjalan di hamparan pasir halus yang diambil dari Gunung Merapi dan pantai Parangkusumo. Di lingkungan Sasana Sewaka ini, wisatawan dilarang mengambil atau membawa pasir halus yang terdapat di tempat tersebut.
Kompleks keraton ini juga dikelilingi dengan baluwarti, sebuah dinding pertahanan dengan tinggi sekitar tiga sampai lima meter dan tebal sekitar satu meter tanpa anjungan. Dinding ini melingkungi sebuah daerah dengan bentuk persegi panjang. Daerah itu berukuran lebar sekitar lima ratus meter dan panjang sekitar tujuh ratus meter. Kompleks keraton yang berada di dalam dinding adalah dari Kemandungan Lor/Utara sampai Kemandungan Kidul/Selatan. Kedua kompleks Sitihinggil dan Alun-alun tidak dilingkungi tembok pertahanan ini.
1.    Kompleks Alun-alun Lor/Utara
Kompleks ini meliputi GladhagPangurakanAlun-alun utara, dan Masjid Agung Surakarta. Gladhag yang sekarang dikenal dengan perempatan Gladhag di Jalan Slamet Riyadi Surakarta, pada zaman dulu digunakan sebagai tempat mengikat binatang buruan yang ditangkap dari hutan. Alun-alun merupakan tempat diselenggarakannya upacara-upacara kerajaan yang melibatkan rakyat. Selain itu alun-alun menjadi tempat bertemunya raja dan rakyatnya. Di pinggir alun-alun ditanami sejumlah pohon beringin. Di tengah-tengah alun alun terdapat dua batang pohon beringin (Ficus benjamina; Famili Moraceae) yang diberi pagar.
Kedua batang pohon ini disebut Waringin Sengkeran (harifah: beringin yang dikurung) yang diberi nama Dewodaru dan Joyodaru. Di sebelah barat alun-alun utara berdiri Mesjid Ageng (Masjid Raya) Surakarta. Masjid raya ini merupakan masjid resmi kerajaan dan didirikan oleh Susuhunan Pakubuwono III (Sunan PB III) pada tahun 1750 (Kasunanan Surakarta merupakan kerajaan Islam). Bangunan utamanya terdiri dari atas serambi dan masjid induk.
2.    Kompleks Sasana Sumewa dan kompleks Sitihinggil Lor/Utara
Di samping museum terdapat Sasana Sewaka. Halaman Sasana Sewaka diselimuti oleh hamparan pasir yang diambil langsung dari Gunung Merapi dan Pantai Parangkusumo.
Sasana Sumewa merupakan bangunan utama terdepan di Keraton Surakarta. Tempat ini pada zamannya digunakan sebagai tempat untuk menghadap para punggawa (pejabat menengah ke atas) dalam upacara resmi kerajaan. Di kompleks ini terdapat sejumlah meriam diantaranya di beri nama Kyai Pancawura atau Kyai Sapu Jagad. Meriam ini dibuat pada masa pemerintahan Sultan Agung. Di sebelah selatan Sasana Sumewa terdapat kompleks Sitihinggil.
Sitihinggil merupakan suatu kompleks yang dibangun di atas tanah yang lebih tinggi dari sekitarnya. Kompleks ini memiliki dua gerbang, satu disebelah utara yang disebut dengan Kori Wijil dan satu disebelah selatan yang disebut dengan Kori Renteng. Pada tangga Sitihinggil sebelah utara terdapat sebuah batu yang digunakan sebagai tempat pemenggalan kepalaTrunajaya yang disebut dengan Selo Pamecat.
Bangunan utama di kompleks Sitihinggil adalah Sasana Sewayana yang digunakan para pembesar dalam menghadiri upacara kerajaan. Selain itu terdapat Bangsal Manguntur Tangkil, tempat tahta Susuhunan, dan Bangsal Witono, tempat persemayaman Pusaka Kebesaran Kerajaan selama berlangsungnya upacara. Bangsal yang terakhir ini memiliki suatu bangunan kecil di tengah-tengahnya yang disebut dengan Krobongan Bale Manguneng, tempat persemayaman pusaka keraton Kangjeng Nyai Setomi, sebuah meriam yang konon dirampas oleh tentara Mataram dari VOC saat menyerbu Batavia. Sisi luar timur-selatan-barat kompleks Sitihinggil merupakan jalan umum yang dapat dilalui oleh masyarakat yang disebut dengan Supit Urang (harfiah=capit udang).

3.    Kompleks Kemandungan Lor/Utara
Kori Kamandungan dilihat dari arah halaman Kemandungan Lor dengan Bale Roto didepannya dan Panggung Sangga Buwana yang menjulang tinggi sebagai latar belakang.
Kori Brajanala (brojonolo) atau Kori Gapit merupakan pintu gerbang masuk utama dari arah utara ke dalam halaman Kemandungan utara. Gerbang ini sekaligus menjadi gerbang cepuri (kompleks dalam istana yang dilingkungi oleh dinding istana yang disebut baluwarti) yang menghubungkan jalan sapit urang dengan halaman dalam istana. Gerbang ini dibangun oleh Susuhunan Paku Buwono III dengan gaya Semar Tinandu. Di sisi kanan dan kiri (barat dan timur) dari Kori Brajanala sebelah dalam terdapat Bangsal Wisomarto tempat jaga pengawal istana.
Selain itu di timur gerbang ini terdapat menara lonceng. Di tengah-tengah kompleks ini hanya terdapat halaman kosong. Bangunan yang terdapat dalam kompleks ini hanya di bagian tepi halaman. Dari halaman ini pula dapat dilihat sebuah menara megah yang disebut dengan Panggung Sangga Buwana(Panggung Songgo Buwono) yang terletak di kompleks berikutnya, Kompleks Sri Manganti.
4.    Kompleks Sri Manganti
Untuk memasuki kompleks ini dari sisi utara harus melalui sebuah pintu gerbang yang disebut dengan Kori Kamandungan. Di depan sisi kanan dan kiri gerbang yang bernuansa warna biru dan putih ini terdapat dua arca. Di sisi kanan dan kiri pintu besar ini terdapat cermin besar dan diatasnya terdapat suatu hiasan yang terdiri dari senjata dan bendera yang ditengahnya terdapat lambang kerajaan. Hiasan ini disebut denganBendero Gulo Klopo. Di halaman Sri Manganti terdapat dua bangunan utama yaitu Bangsal Smarakatha disebelah barat dan Bangsal Marcukundha di sebelah timur.
Pada zamannya Bangsal Smarakatha digunakan untuk menghadap para pegawai menengah ke atas dengan pangkat Bupati Lebet ke atas. Tempat ini pula menjadi tempat penerimaan kenaikan pangkat para pejabat senior. Sekarang tempat ini digunakan untuk latihan menari dan mendalang. Bangsal Marcukundha pada zamannya digunakan untuk menghadap paraopsir prajurit, untuk kenaikan pangkat pegawai dan pejabat yunior, serta tempat untuk menjatuhkan vonis hukuman bagi kerabat raja. Sekarang tempat ini untuk menyimpan Krobongan Madirenggo, sebuah tempat untuk upacara sunat/kitan para putra Susuhunan.
Di sisi barat daya Bangsal Marcukundha terdapat sebuah menara bersegi delapan yang disebut dengan Panggung Sangga Buwana. Menara yang memiliki tinggi sekitar tiga puluhan meter ini sebenarnya terletak di dua halaman sekaligus, halaman Sri Manganti dan halaman Kedhaton. Namun demikian pintu utamanya terletak di halaman Kedhaton.
Konon, menara tersebut digunakan oleh Susuhunan untuk bersemedi dan bertemu dengan Nyai Rara Kidul, penguasa Pantai Selatan. Selain sebagai tempat semedi, Panggung Sanggabuwana sebetulnya juga berfungsi sebagai menara pertahanan, yaitu untuk mengontrol keadaan di sekeliling keraton.
Keraton Kasunanan Surakarta memiliki luas sekitar 500 meter X 700 meter yang dikelilingi oleh dinding pertahanan (benteng) yang disebut Baluarti. Dinding tersebut mengelilingi keraton setinggi 3 hingga 5 meter, tebal sekitar 1 meter, dengan bentuk persegi panjang
Panggung Sangga Buwana sekarang sebagai tempat putra raja meminta wilujengan setiap malam Jumat. "Dahulu tempat tersebut digunakan untuk mengintai musuh," sebut Ramiyono, seorang abdi dalem. 


5.    Kompleks Kedhaton
Kori Sri Manganti menjadi pintu untuk memasuki kompleks Kedhaton dari utara. Pintu gerbang yang dibangun oleh Susuhunan  Pakubuwono IV pada 1792 ini disebut juga dengan Kori Ageng. Bangunan ini memiliki kaitan erat dengan Pangung Sangga Buwana secara filosofis. Pintu yang memiliki gaya Semar Tinandu ini digunakan untuk menunggu tamu-tamu resmi kerajaan. Bagian kanan dan kiri pintu ini memiliki cermin dan sebuah ragam hias diatas pintu. Halaman Kedhaton dialasi dengan pasir hitam dari pantai selatan dan ditumbuhi oleh berbagai pohon langka antara lain 76 batang pohon Sawo Kecik (Manilkara kauki; Famili Sapotaceae). Selain itu halaman ini juga dihiasi dengan patung-patung bergaya eropa. Kompleks ini memiliki bangunan utama diantaranya adalah Sasana Sewaka, nDalem Ageng Prabasuyasa, Sasana Handrawina, dan Panggung Sangga Buwana.
Sasana Sewaka aslinya merupakan bangunan peninggalan pendapa istana Kartasura. Tempat ini pernah mengalami sebuah kebakaran di tahun 1985. Di bangunan ini pula Susuhunan bertahta dalam upacara-upacara kebesaran kerajaan seperti garebeg dan ulang tahun raja. Di sebelah barat Sasana ini terdapat Sasana Parasdya, sebuah peringgitan. Di sebelah barat Sasana Parasdya terdapat nDalem Ageng Prabasuyasa. Tempat ini merupakan bangunan inti dan terpenting dari seluruh Keraton Surakarta Hadiningrat. Di tempat inilah disemayamkan pusaka-pusaka dan juga tahta raja yang menjadi simbol kerajaan. Di lokasi ini pula seorang raja bersumpah ketika mulai bertahta sebelum upacara pemahkotaan dihadapan khalayak di Sitihinggil utara.
Bangunan berikutnya adalah Sasana Handrawina. Tempat ini digunakan sebagai tempat perjamuan makan resmi kerajaan. Kini bangunan ini biasa digunakan sebagi tempat seminar maupun gala dinner tamu asing yang datang ke kota Solo. Bangunan utama lainnya adalah Panggung Sangga Buwana. Menara ini digunakan sebagai tempat meditasi Susuhunan sekaligus untuk mengawasi benteng VOC/Hindia Belanda yang berada tidak jauh dari istana. Bangunan yang memiliki lima lantai ini juga digunakan untuk melihat posisi bulan untuk menentukan awal suatu bulan. Di puncak atap teratas terdapat ornamen yang melambangkan tahun dibangunnya menara tertua di kota Surakarta.
Sebelah barat kompleks Kedhaton merupakan tempat tertutup bagi masyarakat umum dan terlarang untuk dipublikasikan sehingga tidak banyak yang mengetahui kepastian sesungguhnya. Kawasan ini merupakan tempat tinggal resmi raja dan keluarga kerajaan yang masih digunakan hingga sekarang.
6.    Kompleks-kompleks Magangan, dan Sri Manganti, Kemandungan, serta Sitihinggil Kidul (Selatan)
Kompleks Magangan dahulunya digunakan oleh para calon pegawai kerajaan. Di tempat ini terdapat sebuah pendapa di tengah-tengah halaman. Dua kompleks berikutnya,  Sri Manganti Kidul/Selatan dan  Kemandungan Kidul/ Selatan hanyalah berupa halaman yang digunakan saat upacara pemakaman raja maupun permaisuri. Kompleks terakhir, Sitihinggil kidultermasuk alun-alun kidul, memiliki sebuah bangunan kecil. Kini kompleks ini digunakan untuk memelihara pusaka keraton yang berupa kerbau albino yang disebut dengan Kyai Slamet.

C.     Warisan Budaya (Cultural Heritage)
Selain memiliki kemegahan bangunan Keraton Surakarta juga memiliki suatu warisan budaya yang tak ternilai. Diantarannya adalah upacara-upacara adat, tari-tarian sakral, musik, dan pusaka (heirloom). Upacara adat yang terkenal adalah upacara Garebeg, upacara Sekaten, dan upacara Malam Satu Suro. Upacara yang berasal dari zaman kerajaan ini hingga sekarang terus dilaksanakan dan merupakan warisan budaya Indonesia yang harus dilindungi dari klaim pihak asing.
1.    Garebeg
Upacara Garebeg diselenggarakan tiga kali dalam satu tahun kalender/penanggalan Jawa yaitu pada tanggal dua belas bulan  Mulud (bulan ketiga), tanggal satu bulan Sawal (bulan kesepuluh) dan tanggal sepuluh bulan Besar (bulan kedua belas). Pada hari hari tersebut raja mengeluarkan sedekahnya sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan atas kemakmuran kerajaan. Sedekah ini, yang disebut dengan Hajad Dalem, berupa pareden/gunungan yang terdiri dari gunungan kakung  dan  gunungan estri (lelaki dan perempuan).
Gunungan kakung berbentuk seperti kerucut terpancung dengan ujung sebelah atas agak membulat. Sebagian besar gunungan ini terdiri dari sayuran kacang panjang yang berwarna hijau yang dirangkaikan dengan cabai merah, telur itik, dan beberapa perlengkapan makanan kering lainnya. Di sisi kanan dan kirinya dipasangi rangkaian bendera Indonesia dalam ukuran kecil. Gunungan estri berbentuk seperti keranjang bunga yang penuh dengan rangkaian bunga. Sebagian besar disusun dari makanan kering yang terbuat dari beras maupun beras ketan yang berbentuk lingkaran dan runcing. Gunungan ini juga dihiasi bendera Indonesia kecil di sebelah atasnya.
2.    Sekaten
Ajang lain yang menjadi daya tarik wisatawan adalah Gerebeg Sekaten. Bentuk acara ini berupa aneka macam hiburan yang diperuntukkan untuk rakyat. Setiap malam acara ini ramai dikunjungi masyarakat luas yang ingin menikmati hiburan relatif murah.
Sekaten merupakan sebuah upacara kerajaan yang dilaksanakan selama tujuh hari. Konon asal-usul upacara ini sejak kerajaan Demak. Upacara ini sebenarnya merupakan sebuah perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad. Menurut cerita rakyat kata Sekaten berasal dari istilah credo dalam agama IslamSyahadatain.
Sekaten dimulai dengan keluarnya dua perangkat Gamelan SekatiKyai Gunturmadu dan Kyai Guntursari, dari keraton untuk ditempatkan di depan Masjid Agung Surakarta. Selama enam hari, mulai hari keenam sampai kesebelas bulan Mulud dalam kalender Jawa, kedua perangkat gamelan tersebut dimainkan/dibunyikan (Jw: ditabuh) menandai perayaan sekaten.
Puncak acara ini ditutup dengan acara Gerebek Sekaten, yakni Gunungan Sekatenyang biasanya berjumlah delapan pasang atau enam belas gunungan. Pada hari ketujuh upacara ditutup dengan keluarnya Gunungan Mulud.
Ribuan warga telah berkumpul di halaman keraton menunggu gunungan yang akan direbutkan. Setelah didoakan, gunungan yang terbuat dari makanan tradisional dan hasil bumi langsung "dirayah" beramai-ramai. Masyarakat menilai tradisi "ngerayah" gunungan ini akan membawa berkah (keselamatan).
Saat ini selain upacara tradisi seperti itu juga diselenggarakan suatu pasar malam yang dimulai sebulan sebelum penyelenggaraan upacara sekaten yang sesungguhnya.
3.    Kirab Mubeng Beteng utawa Malam Satu Suro
Selain bentuk fisik keraton, daya tarik bagi wisatawan adalah perhelatan budaya. Seperti Perayaan Malam 1 Suro bersamaan dengan malam tahun baru Islam 1 Muharam. Perayaan ini sudah dimulai sejak Kerajaan Mataram Islam pada zaman Sultan Agung. 
Malam satu suro dalam masyarakat Jawa adalah suatu perayaan tahun baru menurut kalender Jawa. Malam satu suro jatuh mulai terbenam matahari pada hari terakhir bulan terakhir kalender Jawa (30/29 Besar) sampai terbitnya matahari pada hari pertama bulan pertama tahun berikutnya (1 Suro).
Sebelumnya, telah diadakan ritual Labuhan Penjuru di Pantai Selatan, Gunung Lawu, Gunung Merapi, dan Alas Kerdowahono. Makna dalam upacara Labuhan ini bertujuan untuk menangkal bekala (bahaya) dari empat penjuru mata angin. Kekuatan yang melindungi keraton yaitu Sunan Lawu (timur), Kanjeng Kencono Hadisari (selatan), Kanjeng Ratu Sekar Kedaton (utara), dan Betari Kalayuati (barat).
Acara puncak pada malam 1 Suro di Keraton Solo adalah kirab pusaka keraton. Menjelang dini hari, ribuan warga Solo dan sekitarnya, termasuk turis asing, berdesak-desakan di jalan sekitar keraton. Mereka hendak menyaksikan kirab pusaka keraton. Suatu yang unik adalah di barisan terdepan ditempatkan pusaka yang berupa sekawanan kerbau albino yang diberi nama Kyai Slamet yang selalu menjadi pusat perhatian masyarakat.
Kawanan kerbau albino yang sering dipanggil kebo bule ini menjadi daya tarik tersendiri. Kerbau bule itu merupakan kerbau keturunan Kyai Slamet. Tradisi kirab ini, bahkan membuat sebagian orang percaya bahwa sisa dari kotoran kebo pun mampu membawa berkah.
Di Keraton Surakarta upacara ini diperingati dengan Kirab Mubeng Beteng (Perarakan Mengelilingi Benteng Keraton). Upacara ini dimulai dari kompleks Kemandungan utara melalui gerbang Brojonolo kemudian mengitari seluruh kawasan keraton dengan arah berkebalikan arah putaran jarum jam dan berakhir di halaman Kemandungan utara. Dalam prosesi ini pusaka keraton menjadi bagian utama dan diposisikan di barisan depan kemudian baru diikuti para pembesar keraton, para pegawai dan akhirnya masyarakat.
4.    Pusaka (heirloom) dan tari-tarian sakral
Keraton Surakarta memiliki sejumlah koleksi pusaka kerajaan diantaranya berupa singgasana raja, perangkat musik gamelan dan koleksi senjata. Di antara koleksi gamelan adalah Kyai Guntursari dan Kyai Gunturmadu yang hanya dimainkan/dibunyikan pada saat upacara Sekaten. Selain memiliki pusaka keraton Surakarta juga memiliki tari-tarian khas yang hanya dipentaskan pada upacara-upacara tertentu. Sebagai contoh tarian sakral adalah Bedaya Ketawang yang dipentaskan pada saat pemahkotaan raja.

D.     Pemangku Adat Jawa Surakarta
Semula keraton Surakarta merupakan Lembaga Istana (Imperial House) yang mengurusi raja dan keluarga kerajaan disamping menjadi pusat pemerintahan Kesunanan Surakarta. Setelah Kesunanan Surakarta dinyatakan hapus oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1946, peran keraton Surakarta tidak lebih sebagai Pemangku Adat Jawa khususnya garis/gaya Surakarta. Begitu pula Susuhunan tidak lagi berperan dalam urusan kenegaraan sebagai seorang raja dala artian politik melainkan sebagai Yang Dipertuan Pemangku Tahta Adat, pemimpin informal kebudayaan. Fungsi keraton pun berubah menjadi pelindung dan penjaga identitas budaya Jawa khususnya gaya Surakarta. Walaupun dengan fungsi yang terbatas pada sektor informal namun keraton Surakarta tetap memiliki kharisma tersendiri di lingkungan masyarakat Jawa khususnya di bekas daerah Kesunanan Surakarta. Selain itu keraton Surakarta juga memberikan gelar kebangsawanan kehormatan (honoriscausa) pada mereka yang mempunyai perhatian kepada budaya Jawa khususnya Surakarta disamping mereka yang berhak karena hubungan darah maupun karena posisi mereka sebagai pegawai (abdidalem) keraton.

E.     Perebutan tahta Kasunanan Surakarta
Sepeninggal Sri Pakubuwana XII pada tanggal 11 Juni 2004, terjadi perebutan takhta antara Pangeran Hangabehi (putra pertama) danganPangeran Tejowulan, yang masing-masing menyatakan diri sebagai Pakubuwana XIII. hangabehi merasa memiliki legitimasi atas takhta karena ia adalah putra lelaki pertama, sementara Tejowulan berargumen bahwa Pakubuwana XII telah menyatakan secara tertulis bahwa Tejowulanlah yang akan menggantikannya. Konflik ini belum berakhir dan berada pada status quo.
Perebutan kekeuasaan yang tak kunjung selesai ini awalnya cukup membuat bingung masyarakat soloraya, namun seiring dengan perjalanan waktu seakan ada pemakluman dari masyarakat bahwa ini adalah wajar dalam sebuah perebutan kekuasaan. sampai saat ini kedua raja tetap menjalankan fungsi yang kurang lebih sama seperti penyelenggaraan tingalan jumenengan. yang membedakan adalah sinuwun hangabehi menyelenggarakan di dalam keraton dan sinuwun tedjowulan menyelenggarakan di ndalem wuryaningratan. hal lain yang sama adalah kedua raja juga memberikan gelar gelar kepada kawula dan para tokoh seperti Sutiyoso oleh Sinuwun Tdejowulan dan Manohara oleh Sinuwun Hangabehi.

F.      Filosofi dan Mitologi seputar Keraton
Setiap nama bangunan maupun upacara, bentuk bangunan maupun benda-benda upacara, letak bangunan, begitu juga prosesi suatu upacara dalam keraton memiliki makna atau arti filosofi masing-masing. Namun sungguh disayangkan makna-makna tersebut sudah tidak banyak yang mengetahui dan kurang begitu mendapat perhatian. Beberapa diantaranya akan ditunjukkan dalam paragraf berikut.
Cermin besar di kanan dan kiri Kori Kemadungan mengadung makna introspeksi diri. Nama Kemandungan sendiri berasal dari kata  mandung yang memiliki arti berhenti. Nama bangsal Marcukundha  berasal dari kata Marcu yang berarti api dan kundho yang berarti wadah / tempat, sehingga Marcukundho melambangkan suatu doa/harapan.  Menara  Panggung Sangga Buwana adalah simbol  Lingga  dan  Kori Sri Manganti di sebelah baratnya adalah simbol Yoni. Simbol Lingga-Yoni dalam masyarakat Jawa dipercaya sebagai suatu simbol kesuburan. Dalam upacara garebeg dikenal dengan adanya sedekah raja yang berupa gunungan. Gunungan tersebut melambangkan sedekah yang bergunung-gunung.
Selain itu keraton Surakarta juga memiliki mistik dan mitos serta legenda yang berkembang di tengah masyarakat. Seperti makna filosofi yang semakin lenyap, mistik dan mitos serta legenda inipun juga semakin menghilang. Sebagai salah satu contoh adalah kepercayaan sebagian masyarakat dalam memperebutkan gunungan saat garebeg. Mereka mempercayai bagian-bagian gunungan itu dapat mendatangkan tuah berupa keuangan yang baik maupun yang lainnya.
Selain itu ada legenda mengenai usia Nagari Surakarta. Ketika istana selesai dibangun muncul sebuah ramalan bahwa kerajaan Surakarta hanya akan berjaya selama dua ratus tahun. Setelah dua ratus tahun maka kekuasaan raja hanya akan selebar mekarnya sebuah payung (Jw: kari sak megare payung). Legenda inipun seakan mendapat pengesahan dengan kenyataan yang terjadi. Apabila dihitung dari penempatan istana secara resmi pada 1745/6 maka dua ratus tahun kemudian pada 1945 Indonesia merdeka kekuasaan Kesusnanan benar-benar merosot. Setahun kemudian pada 1946 Kesunanan Surakarta benar-benar dihapus dan kekuasaan Susuhunan benar-benar habis dan hanya tinggal atas kerabat dekatnya saja.

G.    Lokasi
Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat terletak di Pusat Kota Solo, yaitu di Kelurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota SurakartaProvinsi Jawa Tengah, Indonesia.


H.    Akses
Kota Solo merupakan kota perlintasan Yogyakarta—Surabaya. Dari Yogyakarta, Solo terletak sekitar 65 kilometer arah Timur, sementara dari Surabaya, Kota Solo terletak sekitar 285 kilometer arah Barat. Dari kota besar lainnya, yaitu dari Semarang, Solo terletak sekitar 100 kilometer arah Tenggara. Untuk menuju Kota Solo, wisatawan dapat memanfaatkan transportasi udara mendarat di Bandar Udara Adi Sumarmo, Solo, atau menggunakan jasa bus dan kereta menuju Terminal Tirtonadi dan Stasiun Balapan Solo. Dari Bandara, terminal, maupun stasiun, wisatawan dapat memanfaatkan bus kota, angkot, taksi, maupun andong untuk menuju ke pusat kota mengunjungi Keraton Surakarta.

I.        Harga Tiket
Wisatawan yang hendak berkunjung ke Keraton Surakarta dikenai biaya tiket sebesar Rp4.000,00 per orang. Jika membawa kamera, dikenakan tiket tambahan sebesar Rp2.000,00. Keraton Surakarta melayani kunjungan wisatawan setiap Senin hingga kamis pada pukul 09.00—14.00 WIB. Pada hari Sabtu dan Minggu pukul 09.00—15.00 WIB. Sementara hari Jumat tutup.
Apabila wisatawan berminat mengunjungi Museum Keraton Surakarta yang berada di dalam kompleks keraton, wisatawan akan dikenakan tiket tambahan, yaitu Rp4.000,00 untuk wisatawan domestik, dan Rp8.000,00 untuk wisatawan mancanegara. Untuk izin memotret, dikenakan tiket sebesar Rp2.000,00 untuk tiap kamera. Bagi pengunjung yang datang berombongan akan dikenai potongan tiket sebesar Rp500,00 per orang. Museum ini buka pada hari Senin hingga Kami pukul 09.00—14.00 WIB, Sabtu hingga Minggu pukul 09.00—15.00 WIB, sedangkan pada hari Jumat tutup.

J.       Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Kawasan keraton telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang diperuntukkan bagi wisatawan, seperti pemandu wisata, peminjaman pakaian khas Jawa, brosur wisata, serta toilet. Untuk keperluan Shalat, wisatawan dapat memanfaatkan Masjid Agung Surakarta yang terletak tidak jauh di depan keraton. Mengunjungi ini tentu belum lengkap jika tidak berbelanja baju batik atau benda-benda seni sebagai cenderamata yang dijual di sekitar keraton. Untuk memburu koleksi baju batik yang lebih lengkap, wisatawan dapat berjalan kaki menuju Pasar Klewer yang berjarak sekitar 200 meter dari Keraton Surakarta.
Sebagai sebuah kota transit yang berkembang pesat, Kota Surakarta juga telah memiliki berbagai fasilitas penginapan berupa hotel melati maupun hotel berbintang. Di kota ini juga tidak sulit untuk mencari rumah makan yang menyajikan menu masakan khas Solo, maupun menu makanan internasional.
BY : Ismy Saridiyanti Dan Dimas Fajar.P